Hukum Universal Kehidupan Manusia

13 Agustus 2009, oleh Sri Astuti – Jakarta

Akhirnya, salah satu bagian paling penting dari ilmu sukses di situs ini terselesaikan, yaitu pembahasan (selengkap, namun juga sesingkat dan sesederhana mungkin) tentang Hukum Universal Kehidupan atau the Universal Laws atau Hukum Alam/ Semesta serta bagaimana memanfaatkannya untuk menikmati kehidupan sukses kita.

Pemahaman akan adanya hukum yang mengatur semesta ini sangat penting untuk kehidupan kita karena segala yang terjadi dalam hidup kita ini terpengaruh olehnya. Hukum-hukum Alam ini bersifat mengikat semua ciptaan Tuhan yang ada di jagad raya ini tanpa ada pengecualian.

Tidak memahami adanya hukum gravitasi tidak kemudian menyebabkan Anda bisa terjun dari atas pencakar langit tanpa jatuh ke tanah, kan?

Semua orang, sekolah atau tidak sekolah, kaya atau miskin, beriman atau kafir, semua terikat oleh hukum ini walaupun mungkin mereka sama sekali belum pernah mendengar tentang hukum gravitasi ini seumur hidupnya.

Sama dengan hukum gravitasi ini, Hukum Universal Kehidupan ini mengenai orang miskin sama seperti mengenai orang kaya. Ya, Hukum Semesta ini mengenai semua orang.

Jadi bila ada orang yang bisa memahami Hukum Semesta tersebut sedemikian rupa, menerapkannya dengan sedemikian baik sehingga bisa menikmati anugerah hidup mereka dengan sempurna, maka tidak ada alasan bagi siapapun untuk tidak bisa melakukan hal yang sama, bukan?

Alam semesta diciptakan Tuhan dengan pengaturan yang sebaik-baiknya dan sudah dilengkapi dengan sebuah sistem operasi yang sesempurna mungkin mengatur segala yang ada di dalamnya.

Seiring dengan maju dan berkembangnya ilmu pengetahuan serta kemampuan akal dan nalar manusia, sistem operasi jagad raya tersebut makin lama makin lebar terkuak, makin luas dipahami serta makin mudah dijelaskan dengan bahasa yang gamblang agar semua orang bisa memanfaatkannya sebagai alat pemudah kehidupan mereka.

Jadi ANDA SEMUA MEMILIKI KESEMPATAN YANG SAMA DENGAN SIAPA SAJA untuk juga bisa hidup sukses, kaya dan bahagia di dunia ini.

NOTE: Memahami hukum semesta ini sangat penting bila kita ingin hidup harmonis dengan semua ketetapan Sang Rabb. Dengan mengikuti sistem operasi yang ada, kita bisa menghindari segala kesulitan dan penderitaan yang tidak perlu, dan mengantisipasinya sebelum terjadi.

Baik mari kita mulai pelajaran-pelajaran yang sangat exciting tentang Hukum Universal Kehidupan ini.

Apa itu Universal Laws?

Untuk kepentingan pemahaman istilah ini di negara kita tercinta, Indonesia, saya akan menerjemahkan istilah Universal Laws atau the Laws of the Universe ini menjadi Hukum-hukum Universal Kehidupan atau Hukum Semesta. (Kaum Muslim menyebutnya sebagai Sunnatullah atau Hukum-hukum Alam yang ditetapkan Allah SWT untuk mengatur segala sesuatu di jagad raya ciptaan-Nya ini.)

Tapi apa sebenarnya makna dari Hukum-hukum Semesta atau Universal Laws itu?

Kamus mendefinisikan Universal Laws sebagai hukum-hukum yang mengatur semua hal di alam semesta ini, yang berlaku umum di segala kondisi.

Harap dicatat, penjelasan tentang hukum-hukum alam di sini tidak secara ketat mengikuti hukum fisika sebagaimana yang telah diketahui para ilmuwan, tetapi lebih menonjolkan aspek spiritual dari hukum tersebut, aspek spiritual yang bisa membantu manusia memanfaatkan dan menerapkan hukum tersebut secara praktis dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Bahasa yang kami pakai juga adalah bahasa yang sangat sederhana, jauh dari formula atau rumus, karena fokus kami memang, sekali lagi, untuk pemahaman praktis bagi pembaca agar mudah menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Dan lebih penting lagi, karena pembahasan ini difokuskan pada manfaat Hukum-hukum Semesta ini untuk kehidupan sukses semua umat manusia, maka saya juga akan sering menyebut Hukum Semesta ini sebagai Hukum Universal Kehidupan.

Prinsip/ Asumsi Dasar

Hukum Alam, Hukum Semesta, Hukum Universal Kehidupan ini tidak cuma satu tetapi banyak unsurnya. Dan semua prinsip atau unsur-unsurnya saling berhubungan satu sama lain. Unsur (hukum) yang satu menunjang cara kerja unsur (hukum) yang lain. Saling terkait dan saling menunjang.

Semua unsur Hukum Alam tersebut didasarkan pada asumsi dasar bahwa semua yang ada di alam raya ini pada dasarnya terbentuk dari energi, termasuk kita manusia, dan bahwa semua energi tersebut bergerak mengikuti suatu pola tertentu.

Pada level quantum, atau level materi terkecil yang membentuk kita semua di jagad raya ini, kita semua adalah sekumpulan masa elektron dan atom yang berputar dengan sangat cepat. Semua hal yang ada di dunia ini tersusun/terbentuk dari energi (quanta adalah partikel terkecil pembentuk segala sesuatu dan ia berbentuk energi) dan karena itu kita semua di alam semesta ini pada intinya terhubung dengan lautan energi semesta tersebut dan tidak pernah terlepas darinya.

Kita semua merupakan bagian dari lautan energi ini, lautan elektron-elektron yang berputar. (Satu guru saya, Tom Pauley dari Richdreams, menyebut lautan masa energi yang menyelubungi semua yang ada di planet ini sebagai “a giant plasma” atau selimut plasma raksasa.)

Kalau Anda penasaran dengan konsep bahwa kita semua adalah merupakan bagian dari satu plasma raksasa, silahkan research lebih lanjut tentang ini.

Yang jelas, perasaan-perasaan kita, pikiran kita dan semua tindakan kita, semua tersusun/terbentuk dari energi ini yang memiliki frekuensi tertentu.

Dan inilah satu lagi asumsi dasar lainnya yang sekarang kita juga mulai pahami bahwa segala sesuatu di dunia ini, termasuk pikiran kita, “bergetar” atau bervibrasi dengan frekuensi tertentu.

Yang mana getaran ini kemudian “menarik” hal lain yang memiliki frekuensi sama untuk bergabung.

Dan karenanya, apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan dan lakukan di setiap saatnya akan memancarkan suatu “frekuensi” tertentu, yang kemudian karena pergerakan melingkar segala sesuatu pada level quantum, semua hal tersebut menarik kepada kita pikiran dan tindakan berfrekuensi sama.

Sehingga bisa dikatakan, semua yang kita pikirkan, kita rasakan, kita lakukan, kita percaya tadi akhirnya kembali lagi ke kita dan membentuk realitas hidup kita sesuai yang kita pikirkan sendiri.

Ini adalah karena energi bergerak dengan mengikuti pola putaran (melingkar). Maka apapun yang kita lakukan akan kembali ke kita (membentuk satu lingkaran).

Dan karena hal inilah, pikiran, perasaan dan tindakan semua orang di seluruh planet ini bergabung menjadi satu membentuk sebuah “collective consciousness” alias kesadaran atau buah pikiran kolektif segenap manusia di alam raya, yang kemudian bersama-sama menarik hal-hal yang berfrekuensi sama ke dalam kehidupan keseluruhan manusia di planet ini.

Kolam Renang Jagad Raya

Untuk membantu Anda membayangkan dan akhirnya memahami apa yang dimaksud dengan “semua hal di dunia ini adalah energi dan bahwa kita semua terhubung satu sama lain dalam lautan energi ini” saya akan pakai analogi sebuah kolam renang. Bayangkan dunia dan seluruh jagad raya ini sebagai sebuah kolam renang mega raksasa.

Dan, kita semua berenang di dalam sebuah kolam renang ini, sehingga apapun yang kita lakukan di dalamnya akan mempengaruhi semua orang (dan semua makhluk lain) yang berada di dalamnya. Semua yang terendam dalam air kolam ini akan terkena, katakan, air kencing kita kalau seandainya kita kencing di situ. Semua orang akan terkena, termasuk tentu saja kita sendiri.

Dan karena arus air dalam kolam tersebut terus berputar-putar di situ saja, semua yang di lakukan masing-masing orang, akan mengenai semua orang-orang yang lain sebelum akhirnya kembali kepada diri mereka sendiri.

Jadi terbayang kan, bila sesuatu yang buruk terjadi pada air dalam kolam tersebut, siapa yang bakal menderita?

Bila masing-masing perenang punya kebiasaan buruk buang air kecil di dalamnya, misalnya, maka semua yang ada di situ ibaratnya juga bermandi air kencing rame-rame yang berlipat-lipat jumlahnya.

Bila seseorang melakukan sesuatu yang menyebabkan suhu air di satu ujung kolam tersebut meningkat atau menurun, maka semua yang ada di situ, termasuk yang berada di ujung terjauh dari tempat terjadinya perubahan suhu, pada akhirnya juga akan ikut merasakan imbasnya.

Seperti inilah alam semesta kita. Semua terhubung oleh suatu lautan energi yang memang tidak kasat mata tetapi ada.

 

Semua Manusia Bersaudara

Implikasi dari pemahaman akan terhubungnya kita semua oleh lautan energi ini kemudian menciptakan suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya semua manusia bersaudara.

Saya tahu, banyak agama mengajarkan bahwa semua pemeluk umat beragama sama adalah bersaudara. Misalnya, Muslim bersaudara dengan Muslim. Pemeluk Kristiani adalah saudara bagi pemeluk Kristiani lain, dan sebagainya.

Tetapi, demi kepentingan kehidupan kita sendiri, pandangan seperti ini sudah sepatutnya diperluas, bahwa SEMUA MANUSIA itu bersaudara, dalam arti apa yang terjadi pada satu manusia, siapapun dia, beragama sama dengan kita atau tidak, pada esensinya akan mempengaruhi semua manusia lain.

Hai, bukankan kita semua tinggal bersama di bawah satu selimut atmosfer bumi? Serta berpijak di atas daratan yang sama bernama planet bumi?

Oke, kalau memang tidak mau disebut bersaudara dengan manusia lain yang berbeda dari kita, paling tidak kita harus ingat bahwa kita semua adalah room-mates di satu rumah bernama bumi ini.

Kita semua adalah sama-sama anak kos di rumah kontrakan yang sama dan satu ini. Kita semua punya kewajiban dan hak yang sama untuk menjaga keselamatan, kedamaian dan keindahan rumah kita tersebut.

Karena kalau rumah kontrakan kita ini terbakar, meledak, roboh atau kebanjiran dengan kita semua masih didalamnya, si api, si air atau si puing-puing toh tidak memilih akan mengenai siapa, bukan? Siapa saja bisa menjadi korban, tidak peduli ras, suku, agama, asal muasal, pendidikan dan sebagainya.

Hukum alam pun seperti ini. Tidak memilih. Sunatullah mengikat semua manusia, semua makhluk-Nya, malah.

Jadi bagaimana kalau mengeksplorasi lebih jauh lagi, konsep bahwa semua ciptaan Tuhan itu bersaudara, termasuk binatangnya, tumbuhannya, dan seluruh isi jagad raya ini?

Satu kerusakan yang terjadi pada mereka, efeknya akan bisa dirasakan oleh semua.

Banyak istilah yang menggambarkan kondisi ini, antara lain: the ripple effect dan the butterfly effect.

(Efek kedua ini pernah dibuat filmnya yang sangat “mengerikan” karena di situ kita ditunjukkan bagaimana satu keputusan yang kita ambil walau sepertinya kecil, ternyata memiliki konsekuensi besar yang tidak hanya bisa dirasakan oleh kita sendiri imbasnya tetapi juga mempengaruhi begitu banyak manusia lain di sekitar kita, baik yang kita kenal maupun tidak).

Jadi, kalau menurut Anda kondisi dunia kita saat ini tidaklah menyenangkan, penuh permusuhan, musibah, bencana, peperangan, kebencian dan segala macam kekacauan lainnya, maka ini sebenarnya adalah juga akibat dari perbuatan kita sendiri, kita semua yang ada di dalamnya.

Kondisi yang tidak menyenangkan ini berarti bahwa lebih banyak manusia yang berpikir negatif daripada yang berpikir positif. Lebih banyak manusia yang lebih mempercayai sesuatu yang menakutkan daripada yang indah.

Ini berarti “Our collective consciousness” atau buah pikiran kolektif kita sebagai penghuni planet ini telah menarik hal-hal yang lebih banyak negatifnya dari pada positif.

Karena, sekali lagi, semua pikiran, perasaan, dan tindakan kita pada dasarnya adalah energi yang mempengaruhi lautan energi di sekitar kita. Dan ini semua membentuk sebuah dunia seperti yang kita lihat di sekitar kita ini.

 

Berita Baiknya

Di sisi lain, karena pikiran, perasaan dan tindakan kita membentuk realitas kita, maka ini berarti kita juga punya kekuatan untuk menciptakan dunia yang lebih baik, yang penuh dengan kedamaian dan keharmonisan, ketentraman serta kelimpahan.

Untuk bisa melakukan ini, penting bagi kita untuk bisa mengontrol pikiran, emosi dan tindakan kita, dan otomatis mengontrol jenis dan frekuensi dari energi kita agar hanya berjenis positif.

Pemahaman yang baik akan hukum-hukum semesta atau hukum-hukum universal kehidupan ini sangatlah penting untuk kita bisa menciptakan kehidupan yang kita inginkan. Karena, repotnya dengan hukum-hukum alam ini adalah, tidak penting manusia percaya akannya atau tidak, bahkan tidak penting seorang manusia tahu tentangnya atau tidak, mereka tetap terikat atau terpengaruh olehnya.

Seperti contoh dengan hukum gravitasi di atas. Ketidak-tahuan kita akannya, tidak membuatnya tidak berlaku pada kita.

Jadi jelas, dengan memahaminya, kita memiliki kesempatan proaktif untuk memanfaatkan hukum-hukum universal kehidupan tersebut agar bekerja mendukung kita, dan bukan reaktif dengan mengatasi masalah yang timbul akibat tidak mengikutinya.

Di halaman-halaman berikutnya kita akan belajar secara singkat penjabaran tentang masing-masing unsur beberapa jenis Hukum Universal Sukses yang mengatur kesuksesan hidup kita.

 

 

Salam Sukses Selalu,


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.